Brilio.net - Pemilik usaha kuliner Bolosego, Dyah L Fardisa, mengungkap alasan food truck miliknya hanya berjualan sehari di Alun-Alun Kidul (Alkid) Yogyakarta. Padahal, Bolosego sebelumnya berencana mangkal selama lima hari, mulai 16 hingga 20 September. Dalam curhat yang diunggah melalui media sosial, Dyah menceritakan sejumlah biaya yang disebut muncul setelah pihaknya memperoleh izin berjualan secara resmi.

Cerita tersebut kemudian viral dan membuat sejumlah pihak menghubungi Dyah. Ia pun kembali memberikan penjelasan mengenai kronologi kejadian, termasuk soal pungutan parkir, permintaan makanan untuk sejumlah orang, kebutuhan listrik, hingga percakapan dengan pihak kepolisian.

Bolosego Rencanakan Jualan Lima Hari di Alkid

Bolosego kena pungli © 2026

Bolosego kena pungli
© 2026 /TikTok/@dyahfardisa

Dyah mengawali ceritanya dengan meminta maaf kepada pelanggan yang sudah berencana mencari Bolosego di Alkid.

“Baru satu hari food truck-nya berjualan di Alun-Alun Kidul, dengan berat hati aku harus umumkan ke kalian, kita sudah tidak mangkal lagi di sana,” kata Dyah dilansir brilio.net dari TikTok @dyahfardisa.

Menurut Dyah, food truck Bolosego seharusnya berjualan pada 16 sampai 20 September. Namun, keputusan kemudian diambil untuk menghentikan aktivitas tersebut setelah satu hari.

Ia mengaku sempat takut menyampaikan pengalaman itu karena khawatir salah bicara. Namun, menurutnya, publik perlu mengetahui alasan food truck tersebut tidak melanjutkan jadwal.

“Buka lapak di Alun-Alun Kidul itu ternyata tantangannya banyak. Tantangan birokrasi. Untuk mendapatkan izin, kita menggunakan jalur resmi, menggunakan surat ke Keraton dan ditandatangani oleh Gusti Kanjeng Ratu bahwa kita diperbolehkan jualan di Alun-Alun Kidul,” ujarnya.

Dyah mengatakan proses mendapatkan izin dilakukan melalui jalur resmi dengan mengajukan surat kepada Keraton. Ia menyebut surat tersebut ditandatangani pihak Keraton Yogyakarta dan menjadi dasar izin usahanya untuk berjualan di Alkid.

Setelah Izin, Muncul Permintaan Biaya Parkir

Menurut Dyah, persoalan muncul setelah urusan perizinan dianggap selesai.

Ia mengatakan tim yang mengurus lokasi kemudian mendapat informasi mengenai biaya parkir untuk food truck dari paguyupan parkir setempat. Permintaan awal yang disampaikan disebut mencapai Rp2,5 juta per hari.

“Tadinya tukang parkir mintanya berapa? Rp2,5 juta per hari, jadinya Rp12,5 juta 5 hari,” jelasnya.

Dyah mengaku kaget dengan nominal tersebut. Apalagi, saat itu pihaknya belum mengetahui berapa omzet yang akan diperoleh selama berjualan.

Setelah dilakukan negosiasi, menurut Dyah, biaya tersebut akhirnya menjadi Rp1 juta per hari. Karena jadwal berjualan direncanakan lima hari, totalnya mencapai Rp5 juta.

“Wis deal-dealan, okelah, parkirnya kita bayar Rp1 juta per hari. Ini bukan parkir customer ya, tapi parkir truknya itu loh,” papar Dyah.

Dalam video lanjutan, Dyah menjelaskan bahwa alasan biaya tersebut menurut informasi yang diterima timnya berkaitan dengan penggunaan area yang biasanya menjadi tempat parkir.

Disebutkan, food truck akan menggunakan area tersebut sejak sekitar pukul 14.00 hingga 22.00.

Belum Mulai Jualan, Disebut Ada Biaya Makan 10 Orang

Bolosego kena pungli © 2026

Bolosego kena pungli
© 2026 /TikTok/@dyahfardisa

Setelah biaya parkir disepakati, Dyah mengatakan masih ada permintaan lain.

Menurut ceritanya, pihak tim Bolosego diminta menyediakan makanan untuk 10 orang. Dyah sendiri mengaku tidak mengetahui secara pasti apakah orang-orang tersebut merupakan preman atau tukang parkir.

“Kita diminta untuk ngasih makan ke 10 preman apa tukang parkir, mbuh nyebute apa gitu, 10, Guys!” ujarnya.

Dyah mengatakan kebutuhan tersebut dihitung Rp20 ribu per orang untuk setiap hari selama lima hari. Totalnya menjadi Rp1 juta.

Dengan demikian, menurut perhitungan Dyah, Bolosego telah membayar Rp6 juta di awal, terdiri atas Rp5 juta biaya parkir dan Rp1 juta untuk kebutuhan makanan tersebut.

Ia mengaku keberatan karena pengeluaran sudah muncul sebelum mengetahui bagaimana kondisi penjualan.

“Mulai jualan aja belum. Kita nggak tahu nanti ramai apa nggaknya aja nggak tahu, udah didor di awal segitu banyaknya,” curhat Dyah.

Listrik Tak Bisa Dipakai, Food Truck Pakai Genset

Persoalan lain yang disebut Dyah adalah kebutuhan listrik.

Menurutnya, usaha food truck membutuhkan listrik untuk kegiatan operasional, tetapi colokan yang tersedia di lokasi tidak dapat digunakan tanpa biaya tambahan.

“Belum lagi kita ada kebutuhan nyolokin listrik, bikin nasi apa segala macam di situ kan ada colokan listriknya. Nggak dikasih, Guys. Katanya kalau mau pakai listrik ada tambahan biayanya lagi,” jelas Dyah.

Karena tidak menggunakan listrik dari lokasi, tim kemudian mendatangkan genset. Dyah memperkirakan kebutuhan solar untuk genset tersebut sekitar Rp150 ribu per hari.

Berbagai pengeluaran tersebut akhirnya membuat Dyah dan tim memutuskan tidak meneruskan kegiatan jualan di Alkid.

“Akhirnya kita memutuskan udah nggak usah lanjut aja jualan di Alun-Alun Kidulnya. Bolosego tidak mau memfasilitasi pungli!” tegas Dyah.

Soal Polisi, Dyah Beri Klarifikasi agar Tak Salah Dipahami

Dalam curhat awalnya setelah perkara listrik, Dyah juga menyebut adanya telepon dari pihak yang disebutnya sebagai kepolisian.

Menurut Dyah, dalam percakapan tersebut ia mendapat informasi bahwa tiga anggota polisi akan datang ke lokasi dan diminta untuk disediakan makanan.

“Jadi kondisinya aku memang sudah sebel banget lah. Nah, di kondisi kayak gitu, mendapatkan telepon dari pihak kepolisian, 'Mas, ini saya kirimkan 3 anggota saya. Tolong nanti dirumat makan atau rokoknya.' Terus kita bilang, 'Waduh, masa ya kita laku aja belum harus ngasih makan.' Terus kita bilang, 'Udah, Mas, dikasih uang aja,' gitu. Tapi pihak beliau bilang, 'Kalau uang nggak boleh, itu gratifikasi.’,” tutur Dyah.

Cerita itu kemudian kembali dijelaskan Dyah setelah videonya viral. Ia menegaskan bahwa makanan tersebut pada akhirnya tidak pernah diberikan.

Menurutnya, tiga anggota polisi memang datang ke food truck. Namun, saat malam hari ketika rencananya makanan akan diberikan, anggota tersebut sudah tidak berada di lokasi.

Dyah juga meminta agar bagian tersebut tidak dipahami seolah-olah polisi datang hanya untuk meminta makanan.

“Oh ya, Guys, satu lagi, satu lagi, mumpung keinget ya, karena aku nggak mau ada yang kececer satu pun. Takut aku kalau misalnya ada yang missed. Eh... tentang pihak polisi. Sebenarnya pihak polisi yang datang itu nggak yang cuman datang terus minta makan tuh nggak juga, Guys,” katanya.

Ia mengatakan anggota polisi yang datang justru sempat membantu memediasi persoalan dengan pihak paguyuban parkir, termasuk menanyakan kemungkinan Bolosego menggunakan listrik.

“Pas datang ke truk kita, sebenarnya juga mencoba memediasi ke paguyuban parkir, 'Ini nggak bisa po dapat listrik?' Kayak gitu-gitu sebenarnya membantu juga. Jadi ora sing datang terus minta makan tuh nggak juga. Soale ternyata nyebut polisi tuh sesensitif itu, dadi ini poin nggak boleh di-cut, harus disampaikan ya,” terangnya.

Dyah: Banyak yang Cerita Pernah Mengalami Hal Serupa

Bolosego kena pungli © 2026

Bolosego kena pungli
© 2026 /TikTok/@dyahfardisa

Setelah unggahannya viral, Dyah mengaku mendapat banyak respons. Ada media yang meminta wawancara, pihak Keraton yang disebut mencoba mengajak mediasi, serta pihak kepolisian dari Polsek maupun Polres yang menghubunginya.

Namun, Dyah mengatakan belum merespons pihak-pihak tersebut karena masih syok dengan viralnya video.

Ia juga membaca komentar dari masyarakat yang menceritakan pengalaman serupa.

“Kalau tak baca-baca komentarnya, sebenarnya aku ini bukan kasus pertama ya, banyak yang mengalami hal serupa,” katanya.

Namun dengan kejadian yang ia alami, Dyah berharap Jogja benar-benar berhati nyaman, terutama bebas dari pungli.

Paguyuban Disebut Mengembalikan Rp3 Juta

Setelah video viral, Dyah mengatakan pihak paguyuban parkir sempat menunjukkan itikad untuk mengembalikan sebagian uang yang telah dibayarkan.

Menurutnya, awalnya ada rencana mengembalikan Rp2 juta dari Rp6 juta.

Namun, uang tersebut disebut harus diambil langsung oleh pihak tim Dyah. Dyah kemudian meminta timnya tidak datang mengambil uang tersebut karena khawatir terjadi persoalan lain.

“Nggak ada yang boleh ngambil uang itu ke sana, karena aku nggak mau kalian kena apa-apa,” terang Dyah mengulang pesan kepada timnya.

Dalam perkembangan berikutnya, Dyah mengatakan pihak paguyuban akhirnya mengembalikan Rp3 juta melalui transfer.

Bagi Dyah, persoalan tersebut bukan terutama mengenai jumlah uang.

“Sekali lagi sebenarnya yang kami permasalahkan bukan bukan nominal itu ya, tapi lebih ke keamanan dan kenyamanan kami UMKM yang berjualan, niatnya nyari usaha dengan jalur resmi, ternyata banyak pungli-pungli. Sebenarnya itu yang aku permasalahkan,” tegas Dyah.

Menurutnya, Bolosego sudah berusaha mengikuti jalur resmi untuk mendapatkan izin berjualan, tetapi kemudian menghadapi berbagai permintaan biaya tak resmi di lapangan.

Dyah Tak Ingin Memperpanjang Masalah

Dalam video lanjutannya, Dyah menegaskan bahwa Bolosego tidak ingin memperpanjang persoalan tersebut.

Ia mengatakan food truck kini sudah kembali berjalan dan berjualan di Semarang. Karena itu, ia merasa tidak perlu lagi memperpanjang persoalan maupun menjalani mediasi jika tujuannya hanya untuk menyelesaikan masalah yang menurutnya sudah selesai.

Dyah mengatakan harapannya justru agar pengalaman tersebut bisa menjadi perhatian sehingga pelaku UMKM yang berjualan di Yogyakarta dapat merasa lebih aman dan nyaman.

“Yang terpenting adalah semoga dari kontenku ini, Jogja semakin aman, semakin nyaman, tidak ada praktik pungli-pungli lagi,” tegasnya.

Ia juga menegaskan kecintaannya terhadap Yogyakarta karena dirinya merupakan orang Jogja dan usaha Bolosego berada di kota tersebut.

“Karena bagaimanapun aku ini sangat cinta Jogja, Guys. Aku wong Jogja, usahaku ada di Jogja,” katanya.

Bagi Dyah, pengalaman tersebut sudah selesai dari sisinya. Ia memilih kembali fokus berjualan dan tidak memperpanjang persoalan yang terjadi di Alkid.